Sore tadi, sekitar jam setengah 3.
Puasa gini, kuliah udah libur. Tanggung jawab tinggal mengaji di malam hari, beberapa proker organisasi, sama beberapa jadwal mengajar bahasa inggris.
Cuaca pukul 2 masih panas, Jogja emang panas. Tapi taraf panas yang masih sangat bersahabat, panas-panas asik lah. Aku menjemur beberapa potong pakaian di lantai 3 asramaku setelah mandi dan mencuci, kemudian bersiap untuk berangkat mengajar di salah satu cafe di Nologaten.
"Bismillaah.." Kuberdo'a dalam hati sambil menggeser gas motor revoku.
Baru berjalan berapa ratus meter, petir menyambar di antara panasnya cuaca siang Jogja. Memang aneh, tapi aku maklum dengan umur bumi yang nggak lagi muda. Benar dugaan anda sodara sodara, beberapa menit kemudian hujan. Tak tanggung-tanggung, tetes airnya langsung segede biji jagung. Agak kecilan dikit sih.. Intinya, lumayan lebat hujannya, hanya dalam hitungan menit. Sedangkan sinar matahari masih sangat terang. Tambah aneh saja.
"Jas hujanku.. Maaf aku yang kurang serius sama kamu, sekarang kamu udah kekubur di tanah depan asrama :')" Kira-kira gitulah gumaman hatiku setiap turun hujan saat mengendarai motor. Soalnya beberapa minggu lalu, jas hujanku yang baru kupakai pelindung, langsung kujemur di pagar depan kamarku di lantai 2. Esoknya hingga beberapa hari, tidak pernah kucari tahu kabarnya. Mencoba cek pun tidak. Sampai-sampai aku nggak tahu kalau ia sudah jatuh ke tanah, kehujanan, kepanasan, sanpai kekubur tanah. Wassalam sudah.
Lanjut.
Aku yang tahu diri dan nggak mau basah, langsung mencari tempat berteduh. Kuberdirikan motorku dengan penyangga dua kakinya, duduk di atasnya sambil mencari pelangi. Komposisinya sudah pas, hujan lebat+sinar matahari samadengan pelangi. Tapi aku ngga nemu. Kubuka tasku dan kuraih hpku, menjawab beberapa pesan singkat.
Setelah termenung beberapa saat, hujan berganti gerimis. Masih dengan sinar matahari. Sambil berhitung dengan suasana, akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pelan saja, aku nggak mau kena cipratan air dari motorku sendiri. Beberapa orang dengan kendaraan yang berpapasan denganku terlihat banyak yang berbaik hati memelankan motor atau mobilnya, melihat aku yang mengangkat kakiku tinggi-tinggi sambil nyetir. "Ah, dia nggak mau kecipratan, oke, aku pelan aja papasan sama dia," itu mungkin pikir mereka.
Setelah menyusuri jalan pedesaan yang lumayan banyak genangan air di jalannya, akupun memasuki jalan protokol Ringroad Utara Jogja, yang juga sangat becek, bahkan hampir menyerupai kali.
Kukendarai motorku di samping kiri jalan saja, menghindari motor-motor lain.
Sampai... Kemudian, saat kutengok kaca spion kananku, ada sesuatu yang ngga beres.
.
.
.
.
Sebuah motor, melaju dengan kecepatan tinggi.
Tanpa pengertian, si pengendara sama sekali tidak menurunkan kecepatannya, padahal melihatku yang sangat pelan dan hati-hati dengan genangan.
.
.
Hatiku bersiap.
"Pyarrrr!!!"
"Byurrrrr!!!"
"Whhuzzz!!!"
Pantes aja di film-film itu marahnya pemain kalau kecipratan sangat natural. Aku tahu rasanya sekarang.
Cipratannya, terkena paha, lengan, muka. itu airnya.
Tapi rasanya, langsung meresap masuk ke hati. T.T
.
.
.
.
"Ya Allah, terimalah puasa hamba..."
Aku mencoba buat tidak teriak, berusaha nggak berkata kasar.
Paingan, 18 Juni 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar