Dusun Butuh, Kaliangkrik, Magelang. 5 Februari 2016. Senja menuju maghrib datang.
Anak-anak berlarian di beranda rumah yang menyambung di depan beberapa deret rumah di dusun ini. Seperti yang kuceritakan di Part 1, tatanan rumah di dusun ini lumayan unik. Kami bertiga mulai berjalan menyusuri beberapa rumah, kemudian belok kiri menanjak di jalan setapak berbatu susun. Dengan menenteng dua bibit pohon cemara di tangan, tas carrier di punggung, jas hujan menutup badan, pendakian kami dimulai.
Aku yang sedari dulu sudah penasaran dengan jalur ini menjadi sangat bersemangat. Bisikan doa dalam komat kamit mulut juga dalam hati tak henti kurapalkan. I knew it would be tough, but I can't and wouldn't stop. Selepas Pos 1, jalan mulai berganti dengan tanah bertangga yang dibatasi bambu melintang di setiap ujung tangga tanahnya. Hamparan sawah mulai berganti dengan hutan yang masih cukup lebat. Pepohonan cemara paling mendominasi.
Kami berpapasan dengan rombongan yang baru saja turun dari puncak. Kami salami mereka, yang ternyata salah satu dari mereka adalah teman seasrama Faqih dan Sanchez. Kebetulan yang sangat indah. Sambil mengobrol sejenak, aku meneguk air yang kami bawa. Kutatap langit, hujan sedikit mereda, tertinggal gerimis tipis. Adzan maghrib berkumandang, lamat terdengar dari pedesaan di bawah sana. Ya Allah, syahdu sekali. Setelah dirasa cukup, kami kembali berjalan. Perbincangan antara kami mulai lancar, tedeng antara aku dengan Sanchez yang memang baru kenal sedikit demi sedikit terkikis, obrolan kami mulai nyambung. Badan yang mulai menyesuaikan suhu pegununganpun mulai terasa nyaman untuk berjalan.
Keindahan jalur sejati ini ternyata bukan omong kosong. Sepanjang jalan menuju pos 2 dan 3, kami bertemu dengan belasan ank sungai di antara bebatuan. Inilah yang menarik pula, kami tidak perlu membawa air dalam botol yang banyak, karena kami akan bertemu banyak sumber air di perjalanan mendaki.
Perjalanan dari pos 2 menuju Pos Pohon Tunggal lumayan nyaman, tidak terlalu ditemukan rintangan jalan curam yang ganas. Bahkan banyak jalan landai di sini, membuat kami santai berjalan, hingga gelap tak terasa begitu menyusahkan.
Perjalanan mengendarai motor dari Jogja ternyata cukup terasa lelahnya saat kami memasuki 4 jam pendakian, jalan kami mulai melambat dan istirahat kami mulai intens. Beberapa menit jalan, beberapa menit berhenti. Bahkan saat waktu memasuki pukul 11 malam, kami tertidur sambil duduk di tengah track yang lumayan sempit, terlindungi oleh jas hujan. Aku terbangun saat angin menerpa lumayan kencang di punggungku. "Gawat, badai datang!". Hembusan angin yang lebih kencang saling kejar mengejar menyusul terpaan pertama tadi. Kami memutuskan untuk melanjutkan jalan, melawan ganasnya angin badai Sumbing. Tapi beneran, anginnya gila!
Rasa kantuk, kecapekan yang mulai melanda, ditambah angin kencang kembali menjadi pelambat perjalanan kami. Karena tadi kami juga berhenti cukup lama -bahkan hingga tertidur-, dingin mulai menyerang ke dalam tubuh. Sedangkan jalan terus menanjak, Pos Pohon Tunggal-pun tak kunjung terlihat. Setiap kami menatap ke atas dan melihat ada pohon yang berdiri sendirian, kami lumayan girang dibuatnya, sambil berpikir, "Itu pasti pohon tunggal!", dan menjadi lemas kemabli saat sudah mencapai pohon tersebut, masih banyak pohon besar di sekelilingnya, dan masih banyak pohon di atas kami. Ini juga yang menjadi bahan belajar: jangan terlalu berharap bahwa sebentar lagi kau akan sampai, selalu bersiaplah dengan kemungkinan terburuk, maka kau akan terus terpacu.
Akhirnya, setiap mendongak dan melihat ada pohon sendirian, aku berpikir kalau masih ada pohon lagi di sekeliling pohon tersebut.
Namun akhirnyaa, jam setengah satu dinihari, kami tiba di Pohon Tunggal. Ada satu tenda berdiri di situ. Kami kira, Pos ini adalah lapangan lebar, ternyata hanya sebuah pohon dengan sedikit tanah landai di bawahnya.
Dengan susah payah karena terpaan angin yang kencang dan terpal yang lumayan lebar, kami mulai membangun tenda dengan sedikit gugup dan tergesa. Dingin!
Segera setelah dibangun, meskipun dipasang seadanya, kami tergesa-gesa masuk, merapikan barang-barang, mengganti pakaian, dan menghidupkan kompor portabel untuk penghangat dan memanaskan air.
Entah kau hanya berdiam diri, kau menyakiti manusia lain, kau beraksi membuat karya untuk umat, ataupun kau tidur pulas waktu tetap tidak mau kompromi untuk berhenti. Waktu yang merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang paling lembut ini tanpa pilah pilih akan melindas siapapun atau apapun yang ada di dalamnya. Semua makhluk lainpun, mau tak mau semua harus masuk ke dalam waktu.
Tinggal kitalah yang memilih untuk menambah kualitas waktu yang kita lewati. Bayangkan, dalam waktu 7 jam, kami baru sampai Pos Pohon Tunggal. Dibadingkan pendaki lain, itu lambat sekali. Tapi kami mendaki, sementara di bawah sana banyak yang melewati 7 jamnya dengan sia-sia, tak ada langkah yang diambil, muspro.
Aku masuk ke dalam sleepingbag-ku, membaca doa kemudian mulai menutup mata.
Malam yang indah, deru angin sangat berisik mengoncangkan terpal di atas tenda kami.
Kami tidur. Lanjutan saat kami membuka mata akan kutulis di kemudian waktu yah ~