28 Mei 2016

Sukarelawan: Suka, Rela

***

"Alhamdulillah Is, tadi sudah ditransfer ala kadarnya buat kebutuhan sehari-hari. Mudahan segera menyusul selanjutnya ya, Is..." Kira-kira begitulah pesan singkat yang kudapat dari kontak bernama Abah di handphoneku. Tidak terlalu panjang, singkat saja. Tapi mengena.

***

Apakah arti ketulusan menurutmu?
Secara singkat menurutku, ketulusan adalah rasa yang melepaskan. Rasa yang tidak mengharapkan apapun di belakang sebuah aksi, murni hanya ingin melepaskan rasa. Dan dari Abah dan Ibuku kudapati pelajaran tak henti tentang ketulusan, bahwa melakukan apapun yang baik tidak perlu menunggu dan berharap akan ada sesuatu yang ajaib menyusulmu sesudahnya. Cukup lakukanlah. Jika kira-kira yang aku lakukan akan memberikan efek baik terhadap orang di sekitarku, cukup lakukanlah. Apa yang aku punya untuk berderma dengan siapapun yang membutuhkan, cukup dermakanlah. As simple as that.

Arti ketulusan semakin menjadi abstrak dan sulit tergambarkan, karena apa yang dilakukan kedua orang tuaku di setiap harinya hanya berisi ketulusan, tanpa mereka sadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah ketulusan sejati. Saat ada orang yang mengatakan kepada beliau-beliau tentang inipun, Abahku hanya akan tersenyum meneduhkan seolah mencari kata yang tepat dan sopan untuk menyangkal hal itu, "Ah, tidak seberapa, kami hanya punya itu untuk kami berikan.", atau, "Tidak, kami cuma mampu untuk membantu demikian, mungkin tidak terlalu membantu, ya." Dan masih banyak lagi sanggahan halus yang mereka lontarkan, yang membuat ketulusan semakin kentara terlihat dari mereka, namun membuat mereka semakin menyangkalnya.

Pelajaran yang didapat: jadilah manusia yang intuitif.

Belum selesai.

Tidak ada komentar: