26 Mei 2016

Wisata Jiwa: Gunung Sumbing via Jalur Sejati, Kaliangkrik, Magelang Part 1


Seperti biasa, jauh hari sebelum liburan panjang datang, hati akan selalu gundah: ke mana akan merehatkan otak, mensegarkan yang sudah tidak segar. Banyak pertimbangan sih, sejauh apa tempatnya, butuh berapa lama perjalanan, pastinya juga butuh berapa duit. Namun nggak jauh-jauh dari keinginan yang tidak ada bosannya, berpiknik jiwa ke ketinggian. Muncak gunung.
Sebetulnya catatan perjalanan ini sangat jauh terlambat penulisannya. Kalau rencana sih, sejak sudah di atas sana langsung kepikiran buat nulis di blog. Tapi namanya Islah, banyak sekali wacana diri dalam hati yang aku tahu bakalan tetap jadi wacana, minim realisasinya. Oke, catatan ini contoh lain. Meskipun telat sangat jauh, tapi tetap terlaksana. Better late than never, right?


Saat itu, hari senin tanggal 1 Februari 2016, aku mulai memantapkan hati untuk main, karena senin depannya tanggal merah, maka aku akan dapat long weekend, kupikir, harus jalan. Setelah berunding dengan teman sana sini, ditetapkanlah untuk jalan ke Gunung Sumbing. Pendakian kedua-ku ke gunung tertinggi kedua di jawa tengah ini -setelah Gunung Slamet-. Aku mengajak beberapa teman yang juga para ahli wacana, yaitu teman-teman sekelas di kampusku. Tapi namanya para ahli wacana, mereka tak jadi ikut. Aku sudah punya nama lain dalam benak, temanku yang dulu juga mendaki gunung ini untuk pertama kali, dan juga bersamaku saat mendaki gunung di sebelahnya, Sindoro. Dialah Faqih. Temanku di Jurusanku sebelumnya (kalau bingung, aku kuliah di 2 jurusan di 2 tahun ini, 2014 di Sastra Inggris, 2015 di Komunikasi dan Penyiaran Islam). Faqih langsung antusias saat kuajak ke Sumbing melewati jalur ini. Karena menurut sentilan yang kudengar, Jalur Kaliangrik adalah jalur yang asyik.
Kupersiapkan alat-alat dan mulai setiap sore aku lari-lari kecil -untuk meningkatkan stamina saat mendaki-, hingga hari kamispun datang. Yes, jarak antara keputusan dan kepergianku hanyalah berjarak 3 hari. Senin bilang oke, kamis berangkat. Faqih mengajak satu teman yang lain, baru kukenal di hari itu, Sanchez nama panggilannya (jujur aku lupa nama aslinya).
Telur, sarden, beras, beberapa botol air mineral ukuran 1,5lt, tempe, mie instan, berbagai macam makanan ringan, roti, margarin. Hmmm, logistik sudah ready. Sarung, jaket, 3 potong kaus, 2 pasang kaus kaki, satu celana panjang cadangan. Dan tak lupa, note dan pena, dan sebuah novel punya Tere Liye: Pulang. Saatnya meluncur.

Aku berangkat dengan Honda Revo keluaran tahun 2008 kesayanganku, sedangakan Faqih dan Sanchez mengendarai motor Jupiter MX berplat KT milik Faqih, kami mulai menyusuri jalanan Jogja-Magelang. Setelah dzuhur kami berangkat. Di tengah perjalanan, hujan turun. Deras. Kami menepi sejenak, memasang jas hujan, cover bag, mengamankan agar tak ada yang terancam rusak karena basah. ~Hati ini nggak bakal rusak kalo kehujanan, malah tambah syahdu, kok~. Lupakan.
Saat memasuki Desa Butuh, kabut di jalanan masih sangat tebal mengurangi jarak pandang. Padahal aku ingin memastikan kalau arah kami benar ke gunung, tapi tak ada gunung yang terlihat, kabut terlalu tebal.
Keraguanku terpecahkan saat kabut yang mengarah ke atas gunung sedikit terbuka. Masya Allah, it's a giant one. Gede banget. Tinggi banget, dan luas gunungnya. Seolah pandanganmu ke depan sudah tertutupi oleh gunung itu. Aku semakin bersemangat. Berteriak tak karuan di atas motor, di antara hamparan sawah. Hujan, berkabut, sepi. Perfect, right?

Sesampainya di Desa Butuh, kekagumanku atas ciptaan Tuhan semakin bertambah. Arsitektur desa yang sungguh menawan. Karena desanya berada di dataran pegunungan yang lumayan curam, akhirnya pondasi bagian depan rumah pastinya lebih panjang dibanding bagian belakang rumah. Barisan rumah-rumah itu malah terlihat sangat apik, mirip bangunan-bangunan macam di Brazil dan Italy. Warnanyapun banyak yang mencolok. Ada yang bercat merah, biru terang, putih. sangat apik.
Kamipun mencari Base Camp yang merupakan rumah bapak kepala dusun. Karena pak kadus juga membuka jasa persewaan alat pesta, kami juga bisa sekalian menyewa deklit/terpal, karena tenda kami yang model layer hanya satu lapis, mungkin akan terbang kalau diterjang badai harian di atas Sumbing sana tanpa penutup seperti flysheet atau terpal. Kami memesan makanan kepada Ibu Kadus, menyeduh kopi dan teh, dengan air panas yang sudah disediakan di ruang tamu, siap tersaji dalam termos yang selalu di-refill oleh Ibu Kadus setiap kali habis. Setelah makan, sholat, mengisi 2 botol dengan air di kamar mandi, kami siap mulai mendaki. Masih hujan sore itu.
Di depan rumah pak kadus, berjajar banyak bibit pohon cemara yang harus dibawa oleh setiap pendaki. Satu pendaki satu bibit pohon. Hmm, sangat suka dengan gagasan ini. Setelah berdo'a dan briefing sesaat, kami mulai berjalan.



Dari kanan: Aku, Faqih, Sanchez sesaat sebelum mendaki.
Mendaki pakai jas hujan itu, something.

Kamis, 4 Februari 2016 pukul 17.00. Kami mulai mendaki.
Di perjalanan kami bertemu beberapa warga yang hendak pulang setelah menggarap sawahnya. Jalanan batu susun kami lewati hingga Pos 1. Ada satu rombongan di bawah Pos 1, mereka sudah mendirikan 2 tenda. Like, really? You make a tent to sleep at the first post? Lol.


Udah mau shubuh. Kulanjut kapan-kapan ya ka part selanjutnya ~


Tidak ada komentar: