01 November 2015

***

Ada banyak hal yang akan terlintas saat mendengar kata rumah.
Tempat untuk pulang, masakan Ibu, suara dengungan Abah yang terdengar samar dari kamar shalatnya, tumpukan baju yang baru diangkat dari jemuran, suara televisi dari kamar tengah tanpa penonton, suara klothekan dari pintu samping, teriakan lamat dari asrama puteri sebelah rumah; suara dedaunan disenggol angin. Rumahku di belakang sawah, dikelilingi pepohonan. Tempat yang terlalu strategis untuk menitipkan memori.
Rumahku jarang sekali rapi. Anggota keluarga yang banyak dengan taraf kebandelan yang bersaing membuat keseimbangan kerusakan isi rumah. Putera-puteri Ibu-Abahku ada 7 anak. Bayangkan jika setiap sekian menit satu anak andil menaruh barang sembarangan di salah satu sisi rumah, akan seindah apa tatanan rumah setiap malam? Cukup membuat kerasan, betah. Dengan keadaan rumah yang demikian adanya justru membuat penghuninya merasa memiliki, ada kontribusi dekorasi yang dicurahkan yang menimbulkan rasa menyatu. Dari setiap bercak cat air di tembok ruang mengaji, di kamar depan bahkan di ruang makan menyoretkan kenangan yang terasa syahdu untuk dilihat setelah 5-10 tahun kemudian.
Lemari dua tingkat lungsuran dari santriwati sekitar 8 tahun yang lalupun masih tersimpan di kamar, meskipun tidak lagi berpintu. Coretan tipe-x nya cukup kuat warna putihnya; punya tulisan curahan hati seorang siswa MTs pada jamannya. Kelupasan kayu di sisi kanan pintu dengan empat lubang di setiap sudutnya banyak bercerita tentang empunya lemari yang sering lupa di mana menaruh kunci.
Yang teringat saat mendengar kata rumah, tertinggal jauh di kampung halaman. Yang teringat saat mendengar kata rumah, membuat bersitan senyum mengingat banyak yang sudah terlewatkan.
Hal yang bisa dipelajari adalah: pada saatnya memiliki anak, biarkan masa kecil mereka meninggalkan goresan di pintu, mencoret papan triplek dengan kapur, meretakkan salah satu kaca jendela, untuk meninggalkan warna senyum yang lebih terang saat mereka melihatnya kembali di masa mendatang. Goresan itu adalah peninggalan, identitas yang membuat mereka mengenal di mana hatinya menaruh rumah.

Bjong Cafe, Nologaten Yogyakarta.
Kangen rumah.

Tidak ada komentar: