08 Juli 2016

#3 Yang Belum Kamu Tahu (Juga)

Aku memang sangat suka hujan. Dari kecil, saat hujan tiba aku akan berdiri di jendela memandangi halaman yang basah, kemudian becek hingga menggenang dan mengalir ke kali samping rumah. Tidak jarang hujan di waktu pulang sekolah, yang tidak menghalangiku untuk tetap pulang ke rumah. Awalnya sih pakai daun pisang untuk dijadikan payung sementara, tapi sepuluh langkah kemudian daun itu jadi agak tak berguna, pakaianku basah juga, akhirnya kubuang daun itu, kubiarkan deras hujan jatuh tak pakai penghalang ke badan :)

Kesukaan terhadap hujan ternyata terus tumbuh hingga sekarang.

Kamu, antara kamu dan hujan juga cukup lekat hubungannya. Sampai sebutan kita untuk memanggil sudah berbeda-pun, sekarang kamu masih belum tahu bagian ini. Karena sengaja aku simpan bersama aliran hujan, biar masuk ke derasnya selokan.

Baiklah, aku ceritakan.

Malam itu, jam setengah satu dini hari.

"Udah tidur?" pesan singkatmu masuk ke hp jadulku.
Aku yang memang seperti biasa masih menikmati malam cukup senang kalau kamu bangun. Kamu emang sering bangun malam, biasanya karena belum sholat isya.
"Belum, udah sholat?" Tanyaku singkat.
"Udah"
.
"Aku telpon yaa.." Balasku.
Dan kita berbicara tentang banyak hal. Semalam sudah makan apa saja, aku sudah menulis apa saja, berapa batang yang sudah kuhisap malam ini, atau aku sudah habis berapa cangkir kopi, dan banyak hal. Duapuluh menit, sambungan teleponku terputus.
Ada apa?

Ternyata pulsaku habis. Untuk mengirim sms pun sudah tidak bisa. Gawat, pikirku. Kamu langsung menelpon balik. Kuangkat teleponmu dan kubilang, "Tenang saja, aku sudah pesan pulsa ke temanku, tunggu 5 menit lagi."

I lied that time.

Emang aku sudah minta isi pulsa ke dia, tapi dia bilang saldonya sedang kosong. Di bagian inilah yang belum kamu tahu.

Aku bergegas turun dari kamarku yang berada di lantai 4 asramaku. Kupakai sembarang sandal yang ada di bawah dan berjalan ke counter pulsa di jalan raya yang biasanya masih buka sampai pagi.
Sial, rutukku dalam hati, sangat tidak biasa, warung pulsa itu tutup. Kamu menelponku lagi, dan bilang kalau pulsamu juga menipis. Aku menengok kanan kiri di jalanan pesantren yang sudah sepi, mengingat tempat mana lagi yang menjual pulsa selarut ini. Ada juga di minimarket di utara, itu pun aku harus berjalan lebih dari setengah kilometer. Dengan berdiri sambil menggerak-gerakkan kaki, aku berhitung dalam hati.
Bersamaan dengan langkah pertamaku untuk berjalan ke tempat itu, hujan turun. Gerimis lebih tepatnya, gerimis yang cukup deras. Aku sudah terlanjur berjalan, maka kulanjutkan saja langkahku. Kamu tahu kan aku suka hujan?
Kamu menelponku lagi untuk kesekian kalinya, sementara aku dengan setengah berlari menerobos gerimis terus menenangkanmu, bilang kalau sebentar lagi pulsanya akan masuk. Kepalaku perlahan mulai basah, jaketku juga. Aku berbicara denganmu sambil menahan napas, agar kamu tak tahu kalau aku sedang berlari. Saat itu waktu sangat bersahabat denganku. Hanya beberapa detik setelah pulsamu juga menyusul habis, aku, remaja dengan sarung dan jaket yang basah kuyup, masuk ke minimarket itu dan bersegera membeli pulsa.
"Rokoknya sekalian mas?" Kata penjaga kasir itu setelah aku menyebutkan nomor ponselku.
"Boleh mas, Promild satu bungkus." Jawabku.

Sejurus setelah pulsaku terisi, langsung kita asyik lagi.
Kamu mungkin masih asyik berselimut dan menaruh handphone mu di telinga tanpa dipegangi. Sementara aku berjalan, berjalan dengan asyik juga, sudah terlanjur menikmati hujan di malam hari. Kusulut sebatang rokok dan segera pulang ke asrama sambil tetap mengobrol denganmu hingga pagi.
Yang kamu tahu memang aku suka hujan. Yang kamu tahu malam itu aku meringkuk di kamarku menunggu pulsa yang tak mungkin datang. Banyak yang kamu belum tahu.



Suka kehujanan.
Nov 2012.

19 Juni 2016

Hujan Ala Sinetron

Sore tadi, sekitar jam setengah 3.

Puasa gini, kuliah udah libur. Tanggung jawab tinggal mengaji di malam hari, beberapa proker organisasi, sama beberapa jadwal mengajar bahasa inggris.
Cuaca pukul 2 masih panas, Jogja emang panas. Tapi taraf panas yang masih sangat bersahabat, panas-panas asik lah. Aku menjemur beberapa potong pakaian di lantai 3 asramaku setelah mandi dan mencuci, kemudian bersiap untuk berangkat mengajar di salah satu cafe di Nologaten.

"Bismillaah.." Kuberdo'a dalam hati sambil menggeser gas motor revoku.

Baru berjalan berapa ratus meter, petir menyambar di antara panasnya cuaca siang Jogja. Memang aneh, tapi aku maklum dengan umur bumi yang nggak lagi muda. Benar dugaan anda sodara sodara, beberapa menit kemudian hujan. Tak tanggung-tanggung, tetes airnya langsung segede biji jagung. Agak kecilan dikit sih.. Intinya, lumayan lebat hujannya, hanya dalam hitungan menit. Sedangkan sinar matahari masih sangat terang. Tambah aneh saja.

"Jas hujanku.. Maaf aku yang kurang serius sama kamu, sekarang kamu udah kekubur di tanah depan asrama :')" Kira-kira gitulah gumaman hatiku setiap turun hujan saat mengendarai motor. Soalnya beberapa minggu lalu, jas hujanku yang baru kupakai pelindung, langsung kujemur di pagar depan kamarku di lantai 2. Esoknya hingga beberapa hari, tidak pernah kucari tahu kabarnya. Mencoba cek pun tidak. Sampai-sampai aku nggak tahu kalau ia sudah jatuh ke tanah, kehujanan, kepanasan, sanpai kekubur tanah. Wassalam sudah.

Lanjut.
Aku yang tahu diri dan nggak mau basah, langsung mencari tempat berteduh. Kuberdirikan motorku dengan penyangga dua kakinya, duduk di atasnya sambil mencari pelangi. Komposisinya sudah pas, hujan lebat+sinar matahari samadengan pelangi. Tapi aku ngga nemu. Kubuka tasku dan kuraih hpku, menjawab beberapa pesan singkat.
Setelah termenung beberapa saat, hujan berganti gerimis. Masih dengan sinar matahari. Sambil berhitung dengan suasana, akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pelan saja, aku nggak mau kena cipratan air dari motorku sendiri. Beberapa orang dengan kendaraan yang berpapasan denganku terlihat banyak yang berbaik hati memelankan motor atau mobilnya, melihat aku yang mengangkat kakiku tinggi-tinggi sambil nyetir. "Ah, dia nggak mau kecipratan, oke, aku pelan aja papasan sama dia," itu mungkin pikir mereka.
Setelah menyusuri jalan pedesaan yang lumayan banyak genangan air di jalannya, akupun memasuki jalan protokol Ringroad Utara Jogja, yang juga sangat becek, bahkan hampir menyerupai kali.

Kukendarai motorku di samping kiri jalan saja, menghindari motor-motor lain.

Sampai... Kemudian, saat kutengok kaca spion kananku, ada sesuatu yang ngga beres.
.
.
.
.
Sebuah motor, melaju dengan kecepatan tinggi.
Tanpa pengertian, si pengendara sama sekali tidak menurunkan kecepatannya, padahal melihatku yang sangat pelan dan hati-hati dengan genangan.
.
.
Hatiku bersiap.
"Pyarrrr!!!"
"Byurrrrr!!!"
"Whhuzzz!!!"

Pantes aja di film-film itu marahnya pemain kalau kecipratan sangat natural. Aku tahu rasanya sekarang.
Cipratannya, terkena paha, lengan, muka. itu airnya.
Tapi rasanya, langsung meresap masuk ke hati. T.T
.
.
.
.
"Ya Allah, terimalah puasa hamba..."
Aku mencoba buat tidak teriak, berusaha nggak berkata kasar.

Paingan, 18 Juni 2016.

28 Mei 2016


.....
"BAGAIMANA KAU BILANG 
KAU TAK PUNYA WAKTU
SEDANGKAN KITA HIDUP
DI DALAM WAKTU?"

Kemauanmu itu yang membuatmu pergi
Ketulusanmu itu yang menentukan akan berada di mana dirimu.

Sukarelawan: Suka, Rela

***

"Alhamdulillah Is, tadi sudah ditransfer ala kadarnya buat kebutuhan sehari-hari. Mudahan segera menyusul selanjutnya ya, Is..." Kira-kira begitulah pesan singkat yang kudapat dari kontak bernama Abah di handphoneku. Tidak terlalu panjang, singkat saja. Tapi mengena.

***

Apakah arti ketulusan menurutmu?
Secara singkat menurutku, ketulusan adalah rasa yang melepaskan. Rasa yang tidak mengharapkan apapun di belakang sebuah aksi, murni hanya ingin melepaskan rasa. Dan dari Abah dan Ibuku kudapati pelajaran tak henti tentang ketulusan, bahwa melakukan apapun yang baik tidak perlu menunggu dan berharap akan ada sesuatu yang ajaib menyusulmu sesudahnya. Cukup lakukanlah. Jika kira-kira yang aku lakukan akan memberikan efek baik terhadap orang di sekitarku, cukup lakukanlah. Apa yang aku punya untuk berderma dengan siapapun yang membutuhkan, cukup dermakanlah. As simple as that.

Arti ketulusan semakin menjadi abstrak dan sulit tergambarkan, karena apa yang dilakukan kedua orang tuaku di setiap harinya hanya berisi ketulusan, tanpa mereka sadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah ketulusan sejati. Saat ada orang yang mengatakan kepada beliau-beliau tentang inipun, Abahku hanya akan tersenyum meneduhkan seolah mencari kata yang tepat dan sopan untuk menyangkal hal itu, "Ah, tidak seberapa, kami hanya punya itu untuk kami berikan.", atau, "Tidak, kami cuma mampu untuk membantu demikian, mungkin tidak terlalu membantu, ya." Dan masih banyak lagi sanggahan halus yang mereka lontarkan, yang membuat ketulusan semakin kentara terlihat dari mereka, namun membuat mereka semakin menyangkalnya.

Pelajaran yang didapat: jadilah manusia yang intuitif.

Belum selesai.

27 Mei 2016

Wisata Jiwa: Gunung Sumbing via Jalur Sejati, Kaliangkrik, Magelang Part 2

Dusun Butuh, Kaliangkrik, Magelang. 5 Februari 2016. Senja menuju maghrib datang.
Anak-anak berlarian di beranda rumah yang menyambung di depan beberapa deret rumah di dusun ini. Seperti yang kuceritakan di Part 1, tatanan rumah di dusun ini lumayan unik. Kami bertiga mulai berjalan menyusuri beberapa rumah, kemudian belok kiri menanjak di jalan setapak berbatu susun. Dengan menenteng dua bibit pohon cemara di tangan, tas carrier di punggung, jas hujan menutup badan, pendakian kami dimulai.

Aku yang sedari dulu sudah penasaran dengan jalur ini menjadi sangat bersemangat. Bisikan doa dalam komat kamit mulut juga dalam hati tak henti kurapalkan. I knew it would be tough, but I can't and wouldn't stop. Selepas Pos 1, jalan mulai berganti dengan tanah bertangga yang dibatasi bambu melintang di setiap ujung tangga tanahnya. Hamparan sawah mulai berganti dengan hutan yang masih cukup lebat. Pepohonan cemara paling mendominasi.

Kami berpapasan dengan rombongan yang baru saja turun dari puncak. Kami salami mereka, yang ternyata salah satu dari mereka adalah teman seasrama Faqih dan Sanchez. Kebetulan yang sangat indah. Sambil mengobrol sejenak, aku meneguk air yang kami bawa. Kutatap langit, hujan sedikit mereda, tertinggal gerimis tipis. Adzan maghrib berkumandang, lamat terdengar dari pedesaan di bawah sana. Ya Allah, syahdu sekali. Setelah dirasa cukup, kami kembali berjalan. Perbincangan antara kami mulai lancar, tedeng antara aku dengan Sanchez yang memang baru kenal sedikit demi sedikit terkikis, obrolan kami mulai nyambung. Badan yang mulai menyesuaikan suhu pegununganpun mulai terasa nyaman untuk berjalan.

Keindahan jalur sejati ini ternyata bukan omong kosong. Sepanjang jalan menuju pos 2 dan 3, kami bertemu dengan belasan ank sungai di antara bebatuan. Inilah yang menarik pula, kami tidak perlu membawa air dalam botol yang banyak, karena kami akan bertemu banyak sumber air di perjalanan mendaki.
Perjalanan dari pos 2 menuju Pos Pohon Tunggal lumayan nyaman, tidak terlalu ditemukan rintangan jalan curam yang ganas. Bahkan banyak jalan landai di sini, membuat kami santai berjalan, hingga gelap tak terasa begitu menyusahkan.

Perjalanan mengendarai motor dari Jogja ternyata cukup terasa lelahnya saat kami memasuki 4 jam pendakian, jalan kami mulai melambat dan istirahat kami mulai intens. Beberapa menit jalan, beberapa menit berhenti. Bahkan saat waktu memasuki pukul 11 malam, kami tertidur sambil duduk di tengah track yang lumayan sempit, terlindungi oleh jas hujan. Aku terbangun saat angin menerpa lumayan kencang di punggungku. "Gawat, badai datang!". Hembusan angin yang lebih kencang saling kejar mengejar menyusul terpaan pertama tadi. Kami memutuskan untuk melanjutkan jalan, melawan ganasnya angin badai Sumbing. Tapi beneran, anginnya gila!

Rasa kantuk, kecapekan yang mulai melanda, ditambah angin kencang kembali menjadi pelambat perjalanan kami. Karena tadi kami juga berhenti cukup lama -bahkan hingga tertidur-, dingin mulai menyerang ke dalam tubuh. Sedangkan jalan terus menanjak, Pos Pohon Tunggal-pun tak kunjung terlihat. Setiap kami menatap ke atas dan melihat ada pohon yang berdiri sendirian, kami lumayan girang dibuatnya, sambil berpikir, "Itu pasti pohon tunggal!", dan menjadi lemas kemabli saat sudah mencapai pohon tersebut, masih banyak pohon besar di sekelilingnya, dan masih banyak pohon di atas kami. Ini juga yang menjadi bahan belajar: jangan terlalu berharap bahwa sebentar lagi kau akan sampai, selalu bersiaplah dengan kemungkinan terburuk, maka kau akan terus terpacu.
Akhirnya, setiap mendongak dan melihat ada pohon sendirian, aku berpikir kalau masih ada pohon lagi di sekeliling pohon tersebut.

Namun akhirnyaa, jam setengah satu dinihari, kami tiba di Pohon Tunggal. Ada satu tenda berdiri di situ. Kami kira, Pos ini adalah lapangan lebar, ternyata hanya sebuah pohon dengan sedikit tanah landai di bawahnya.
Dengan susah payah karena terpaan angin yang kencang dan terpal yang lumayan lebar, kami mulai membangun tenda dengan sedikit gugup dan tergesa. Dingin!
Segera setelah dibangun, meskipun dipasang seadanya, kami tergesa-gesa masuk, merapikan barang-barang, mengganti pakaian, dan menghidupkan kompor portabel untuk penghangat dan memanaskan air.

Entah kau hanya berdiam diri, kau menyakiti manusia lain, kau beraksi membuat karya untuk umat, ataupun kau tidur pulas waktu tetap tidak mau kompromi untuk berhenti. Waktu yang merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang paling lembut ini tanpa pilah pilih akan melindas siapapun atau apapun yang ada di dalamnya. Semua makhluk lainpun, mau  tak mau semua harus masuk ke dalam waktu.
Tinggal kitalah yang memilih untuk menambah kualitas waktu yang kita lewati. Bayangkan, dalam waktu 7 jam, kami baru sampai Pos Pohon Tunggal. Dibadingkan pendaki lain, itu lambat sekali. Tapi kami mendaki, sementara di bawah sana banyak yang melewati 7 jamnya dengan sia-sia, tak ada langkah yang diambil, muspro.

Aku masuk ke dalam sleepingbag-ku, membaca doa kemudian mulai menutup mata.
Malam yang indah, deru angin sangat berisik mengoncangkan terpal di atas tenda kami.

Kami tidur. Lanjutan saat kami membuka mata akan kutulis di kemudian waktu yah ~

26 Mei 2016

Wisata Jiwa: Gunung Sumbing via Jalur Sejati, Kaliangkrik, Magelang Part 1


Seperti biasa, jauh hari sebelum liburan panjang datang, hati akan selalu gundah: ke mana akan merehatkan otak, mensegarkan yang sudah tidak segar. Banyak pertimbangan sih, sejauh apa tempatnya, butuh berapa lama perjalanan, pastinya juga butuh berapa duit. Namun nggak jauh-jauh dari keinginan yang tidak ada bosannya, berpiknik jiwa ke ketinggian. Muncak gunung.
Sebetulnya catatan perjalanan ini sangat jauh terlambat penulisannya. Kalau rencana sih, sejak sudah di atas sana langsung kepikiran buat nulis di blog. Tapi namanya Islah, banyak sekali wacana diri dalam hati yang aku tahu bakalan tetap jadi wacana, minim realisasinya. Oke, catatan ini contoh lain. Meskipun telat sangat jauh, tapi tetap terlaksana. Better late than never, right?


Saat itu, hari senin tanggal 1 Februari 2016, aku mulai memantapkan hati untuk main, karena senin depannya tanggal merah, maka aku akan dapat long weekend, kupikir, harus jalan. Setelah berunding dengan teman sana sini, ditetapkanlah untuk jalan ke Gunung Sumbing. Pendakian kedua-ku ke gunung tertinggi kedua di jawa tengah ini -setelah Gunung Slamet-. Aku mengajak beberapa teman yang juga para ahli wacana, yaitu teman-teman sekelas di kampusku. Tapi namanya para ahli wacana, mereka tak jadi ikut. Aku sudah punya nama lain dalam benak, temanku yang dulu juga mendaki gunung ini untuk pertama kali, dan juga bersamaku saat mendaki gunung di sebelahnya, Sindoro. Dialah Faqih. Temanku di Jurusanku sebelumnya (kalau bingung, aku kuliah di 2 jurusan di 2 tahun ini, 2014 di Sastra Inggris, 2015 di Komunikasi dan Penyiaran Islam). Faqih langsung antusias saat kuajak ke Sumbing melewati jalur ini. Karena menurut sentilan yang kudengar, Jalur Kaliangrik adalah jalur yang asyik.
Kupersiapkan alat-alat dan mulai setiap sore aku lari-lari kecil -untuk meningkatkan stamina saat mendaki-, hingga hari kamispun datang. Yes, jarak antara keputusan dan kepergianku hanyalah berjarak 3 hari. Senin bilang oke, kamis berangkat. Faqih mengajak satu teman yang lain, baru kukenal di hari itu, Sanchez nama panggilannya (jujur aku lupa nama aslinya).
Telur, sarden, beras, beberapa botol air mineral ukuran 1,5lt, tempe, mie instan, berbagai macam makanan ringan, roti, margarin. Hmmm, logistik sudah ready. Sarung, jaket, 3 potong kaus, 2 pasang kaus kaki, satu celana panjang cadangan. Dan tak lupa, note dan pena, dan sebuah novel punya Tere Liye: Pulang. Saatnya meluncur.

Aku berangkat dengan Honda Revo keluaran tahun 2008 kesayanganku, sedangakan Faqih dan Sanchez mengendarai motor Jupiter MX berplat KT milik Faqih, kami mulai menyusuri jalanan Jogja-Magelang. Setelah dzuhur kami berangkat. Di tengah perjalanan, hujan turun. Deras. Kami menepi sejenak, memasang jas hujan, cover bag, mengamankan agar tak ada yang terancam rusak karena basah. ~Hati ini nggak bakal rusak kalo kehujanan, malah tambah syahdu, kok~. Lupakan.
Saat memasuki Desa Butuh, kabut di jalanan masih sangat tebal mengurangi jarak pandang. Padahal aku ingin memastikan kalau arah kami benar ke gunung, tapi tak ada gunung yang terlihat, kabut terlalu tebal.
Keraguanku terpecahkan saat kabut yang mengarah ke atas gunung sedikit terbuka. Masya Allah, it's a giant one. Gede banget. Tinggi banget, dan luas gunungnya. Seolah pandanganmu ke depan sudah tertutupi oleh gunung itu. Aku semakin bersemangat. Berteriak tak karuan di atas motor, di antara hamparan sawah. Hujan, berkabut, sepi. Perfect, right?

Sesampainya di Desa Butuh, kekagumanku atas ciptaan Tuhan semakin bertambah. Arsitektur desa yang sungguh menawan. Karena desanya berada di dataran pegunungan yang lumayan curam, akhirnya pondasi bagian depan rumah pastinya lebih panjang dibanding bagian belakang rumah. Barisan rumah-rumah itu malah terlihat sangat apik, mirip bangunan-bangunan macam di Brazil dan Italy. Warnanyapun banyak yang mencolok. Ada yang bercat merah, biru terang, putih. sangat apik.
Kamipun mencari Base Camp yang merupakan rumah bapak kepala dusun. Karena pak kadus juga membuka jasa persewaan alat pesta, kami juga bisa sekalian menyewa deklit/terpal, karena tenda kami yang model layer hanya satu lapis, mungkin akan terbang kalau diterjang badai harian di atas Sumbing sana tanpa penutup seperti flysheet atau terpal. Kami memesan makanan kepada Ibu Kadus, menyeduh kopi dan teh, dengan air panas yang sudah disediakan di ruang tamu, siap tersaji dalam termos yang selalu di-refill oleh Ibu Kadus setiap kali habis. Setelah makan, sholat, mengisi 2 botol dengan air di kamar mandi, kami siap mulai mendaki. Masih hujan sore itu.
Di depan rumah pak kadus, berjajar banyak bibit pohon cemara yang harus dibawa oleh setiap pendaki. Satu pendaki satu bibit pohon. Hmm, sangat suka dengan gagasan ini. Setelah berdo'a dan briefing sesaat, kami mulai berjalan.



Dari kanan: Aku, Faqih, Sanchez sesaat sebelum mendaki.
Mendaki pakai jas hujan itu, something.

Kamis, 4 Februari 2016 pukul 17.00. Kami mulai mendaki.
Di perjalanan kami bertemu beberapa warga yang hendak pulang setelah menggarap sawahnya. Jalanan batu susun kami lewati hingga Pos 1. Ada satu rombongan di bawah Pos 1, mereka sudah mendirikan 2 tenda. Like, really? You make a tent to sleep at the first post? Lol.


Udah mau shubuh. Kulanjut kapan-kapan ya ka part selanjutnya ~